FilmRohani Kristen Terbaru | MISTERI KETUHANAN SEKUEL - Klip Film(3)Perbedaan Antara Kemanusiaan Normal Kristus dan Kemanusiaan Manusia yang Rusak Klip Film(6)Apakah Tuhan Yesus adalah Putra Tuhan atau Tuhan Sendiri? 29:09. Film Rohani Kristen Terbaru | MISTERI KETUHANAN SEKUEL - Klip Film(5)Memahami TRINITAS Telah umum dalam pemahaman orang-orang Kristen bahwa Tuhan dikonsepkan menjadi 3 oknum, yaitu : Tuhan Bapa (God the Father), Tuhan anak (Jesus the Christ) dan Tuhan Roh Kudus (The Holy Spirit); Dan ketiga-tiga oknum ini didalam keyakinan mereka merupakan sehakikat dan satu dalam kesatuannya. Adanya kehadiran Jesus yang Mukaddimah Al-Qur’an menyatakan bahwa umat Kristen mengkliam bahwa Yesus Kristus (Islam-Al-Qur’an: ‘Isa ibn Maryam atau al-Masih) itu ‘Anak Allah’.[1] Informasi Al-Qur’an ini mengindikasikan bahwa sejak kematian Yesus, penyelewengan terjadi begitu radikal. Maka tak heran, jika umat Kristen tidak hanya menyatakan Yesus sebagai Diacinta daku dan ampuniku Bahkan rela brikan nyawaNya tuk slamatkanku Sambutlah Yesus, Tinggikan Yesus Bri Dia hormat, pujian dan kuasa Yesus Raja Bagi yang mulia kuangkatku, Submitted by admin on 1 January, 1970 - 07:00 . Daftar Lagu Natal (Bahasa Inggris) (159,660) Mulia Sembah Raja Mulia (Majesty) (157,388) more . Lowongan. Ketikamereka menjawab bahwa Yesus itu tuhan, menurut Dr. Zakir Naik itulah waktu yang tepat untuk memulai dakwah pada mereka. Dakwah tentang apa? Yaitu dakwah menggugat ketuhanan Yesus. Dr Zakir Naik dengan lantang mengatakan tidak ada satupun pernyataan yang jelas di seluruh Alkitab bahwa Yesus sendiri berkata aku adalah tuhan dan J9Oz. Peristiwa Natal tak lepas dari peranan keluarga Maria dan Yusuf yang sejak kelahiran Yesus di tengah-tengah mereka, keluarga mereka disebut Keluarga Kudus. Kisah Keluarga Kudus tidak dibangun atas dasar hubungan suami-istri secara jasmaniah-badaniah antara Maria dan Yusuf sehingga lahirlah Yesus. Hubungan Maria dan Yusuf sebagai suamiistri begitu unik, sebab Maria mengandung justru ketika sedang bertunangan dengan Yusuf. Kisah mengenai Keluarga Kudus dimulai saat Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel, yang menyatakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus diberi nama Yesus bdk. Lukas 131. Ketika Maria menerima kabar tersebut, dia sedang bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Yusuf dari keluarga Daud Lukas 127. Demikianlah, Maria mengandung dan melahirkan anak, seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena mereka tidak mendapat tempat di rumah penginapan bdk. Lukas 27. Begitulah, Keluarga Kudus beranggotakan tiga pribadi utama, yakni Yesus sebagai anak, Maria sebagai ibu dan istri, serta Yusuf sebagai bapak dan suami. Maria, perawan dari sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret, dipilih menjadi “ibu” Keluarga Kudus karena dialah “yang dikaruniai, Allah besertanya” bdk. Lukas 128. Tak pernah terjadi sebelumnya pada siapa pun, bahwa Allah mengutus Malaikat Gabriel untuk menyampaikan rahmat dan perutusan khusus kepada seorang gadis perawan dengan tugas, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus!” Lukas 131. Maria dipanggil dan diutus untuk menjadi ibu Keluarga Kudus. Yesus lahir sebagai anak dengan identifikasi khusus. “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” Lukas 132-33. Maka, kelahiran Yesus tidak terjadi atas hasrat dan keinginan seorang lelaki. Maria mengandung bukan atas kehendak manusia lelaki. Maria mengandung, dan dengan itu mulailah tumbuh rahmat keibuannya karena “Roh Kudus turun atasnya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi dia; itulah sebabnya anak yang dilahirkannya disebut kudus, Anak Allah” bdk. Lukas 135. Yesus lahir, hidup, tumbuh berkembang dalam bimbingan Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf disahkan dan diakui sebagai orang tua Yesus lih. Lukas 241-51. Sebagai anak laki-laki sulung, oleh kedua orang tuanya, Maria dan Yusuf, Yesus disunat seturut hokum Taurat dan dipersembahkan kepada Allah di kenisah lih. Lukas 221-38. Dalam naungan Keluarga Kudus, Yesus “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” Lukas 240. Makin hari, “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” Lukas 252. Yusuf adalah kepala Keluarga Kudus, meski kelahiran Yesus dari Maria bukan karena buah darah dan dagingnya. Yesus lahir dari rahim perawan Maria bukan karena tindakan Yusuf, melainkan karena daya kuasa Roh Kudus! Namun, Yusuf tetap diterima dan diakui sebagai “ayah” Yesus di dunia, karena Yusuf adalah suami Maria. Maria sendiri menegaskan hal itu kepada Yesus ketika mereka menemukan Yesus di kenisah. Maria berkata, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu yakni Yusuf – pen. dan aku dengan cemas mencari Engkau!” Lukas 248. Bagaimana dan sejauh mana peranan Yusuf sebagai kepala Keluarga Kudus memang tidak banyak dikisahkan dalam Injil. Namun peranan Yusuf sebagai bapak keluarga cukup besar, juga sejak Yesus dalam kandungan Maria. Keputusan Yusuf untuk menerima Maria secara tulus walau Maria mengandung bukan karena hubungan suami-istri dengannya adalah keputusan yang luar biasa. Keputusan itu diambil dalam pertimbangan yang matang, hening dan atas tuntunan malaikat Tuhan sendiri. Itulah yang digambarkan St. Matius dalam Injilnya. Ketika Maria, bertunangan dengan Yusuf, dan ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami-istri; Yusuf memang sempat mengalami keguncangan! Sebagai orang yang tulus hati, dia tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum. Maka ia bermaksud menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak lakilaki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Dan Yusuf pun berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, kendati tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus lih. Matius 118-25. Begitulah Yusuf menerima Maria sebagai istrinya dan Yesus yang dalam kandungan Maria sebagai anaknya. Yesus pun diterima sebagai anak Yusuf?” lih. Luk 422. Yesus tumbuh, berkembang dan hidup dalam Keluarga Kudus dalam segala kesederhanaannya. Setiap hari, Yesus, Maria, dan Yusuf hidup dan berinteraksi secara normal dengan keluarga-keluarga lain di Nazaret. Sebagai anak, Yesus bermain dan berlari di halaman rumah bersama dengan anak-anak lain yang sebaya. Yesus juga belajar dari keterampilan ayahnya sebagai tukang kayu. Demikian juga dengan Maria dan Yusuf. Sama seperti layaknya para wanita lain di Nazaret, Maria cenderung mengerjakan pekerjaan rumah, membersihkan, memasak, mencuci, membuat pakaian. Yusuf pun bekerja sesuai dengan ketrampilannya, mungkin juga sesekali pergi ke ladang untuk memanen anggur dan buah zaitun. Yang jelas, menurut catatan St. Lukas, dalam asuhan Maria dan Yusuf, “Yesus makin bertambah hikmat- Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” Lukas 252. Keluarga Kudus Nazaret, Yesus, Maria dan Yusuf hidup dalam kesederhanaan. Itulah yang hendak ditegaskan oleh St. Lukas. Catatan itu ditujukan sebagai kabar baik bagi setiap orang yang hendak meneladani Keluarga Kudus. Sesungguhnya, hidup kita juga mengalir dalam kesederhanaan, dalam peristiwa-peristiwa yang biasa, rutin dan kadang tampak membosankan. Tetapi dalam situasi dan keadaan itulah kita diajak untuk menemukan dan menangkap misteri penjelmaan yang terjadi dalam peristiwa hidup yang sederhana dan biasa. Lihatlah, dalam Keluarga Kudus yang sederhana dan biasa itu, cukup tiga pribadi sederhana yang saling mengasihi satu sama lain. Dan dari dalam Keluarga Kudus itulah wajah dunia akan diubah menjadi berkah, sebab dari Keluarga Kudus itulah tampil Sang Juruselamat bagi seluruh umat manusia! Selamat Natal bagi yang merayakannya. Aloys Budi Purnomo Pr, Rohaniwan, Budayawan Interreligius, Ketua Komisi HAKKeuskupan Agung Semarang, Kepala Campus Ministry Unika Seogijapranata Sumber Investor Daily Saksikan live streaming program-program BTV di sini Ilustrasi Natal fotoUnsplashDalam waktu dekat, umat Kristen dan Katolik di seluruh dunia akan merayakan Hari Natal. Momen ini merupakan bentuk peringatan untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Biasanya, Natal dirayakan dengan kebaktian di gereja pada 24 Desember malam. Kemudian, perayaan ini dilanjutkan dengan ibadah pada 25 Desember pagi. Selain beribadah, umat Nasrani juga kerap melakukan berbagai tradisi seperti memasang pohon Natal, tukar kado, dan diketahui, Natal merupakan momen sakral bagi umat Kristen dan Katolik, di mana Sang Juru Selamat telah lahir ke dunia. Momen istimewa ini dimuat dalam Alkitab, tepatnya Injil Perjanjian kitab Matius, disebutkan bahwa Maria telah mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Hal ini diketahui Maria dari seorang malaikat. Usai mendengar kabar tersebut, Maria dan suaminya, Yusuf pergi ke kota Betlehem untuk mendaftar sensus yang diperintahkan Kaisar Romawi sampai di Betlehem, Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat untuk menginap. Akhirnya, bayi Yesus pun dibaringkan di sebuah palungan, sebuah wadah makanan untuk sisi lain, Alkitab juga mencatat bahwa beberapa orang-orang Majus dari Timur datang ke tempat kelahiran Yesus. Mereka datang setelah mendengar kabar kelahiran tersebut dari para orang itu melihat bintang besar di atas wilayah Yerusalem. Mereka pun mengikuti bintang tersebut hingga akhirnya sampai di tempat kelahiran Yesus. Setibanya di sana, ketiga orang Majus itu menyembah Yesus dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan Natal fotoUnsplashSejatinya, Alkitab tidak menyebutkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Injil Perjanjian Baru hanya menjelaskan peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem dan kedatangan tiga orang Majus. Meski sempat menjadi perdebatan, umat Kristen akhirnya sepakat untuk menetapkan tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian sebagai Hari Natal. Penetapan ini berkaca pada hari raya liturgi lain seperti Paskah dan Jumat Agung yang tidak mendapat pendekatan tanggal secara pasti, namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara tersebut dalam setahun liturgi. Dengan kata lain, ketepatan tanggal bukan hal yang utama. Hal yang terpenting terletak pada esensi dan inti perayaan Natal yang dapat diwujudkan dari hari ke hari.

misteri natal dan ketuhanan yesus