Didalamdunia pendidikan proses absensi merupakan proses yang paling penting. Tidak hanya siswa siswi saja guru pun wajib melakukan absensi menentukan kualitas pekerjaan nya sebagai pengajar di sekolah. Salah satunya adalah dengan sistem absensi guru SMKN 1 Panyingkiran masih menggunakan absensi guru secara manual (kertas).
Abstrak– Absensi merupakan proses pendataan kehadiran siswa yang memiliki di setiap sekolah untuk mengetahui apakah siswa hadir pada saat pelajaran dimulai. Selama absensi dilakukan kegiatan pendataan absensi kelas masih menggunakan manualisasi. Hal ini menyebabkan SMA YP IPPI Petojo tidak teratur dalam pendataan absensi.
c Sistem absensi ini akan mampu melakukan beberapa fasilitas dan fungsi seperti : mempunyai password yang berguna unutk pemakaian sistem oleh orang yang tidak berwenang, sistem mempunyai fasilitas pengendali eror yaitu berupa pesan kesalahan atau proses yang akan muncul di dalam sistem, serta bisa adanya fasilitas pencarian data.
Dalamdunia kerja tentu banyak manfaat dari informasi yang dihasilkan oleh absen sidik jari (fingerprint), Meningkatkan produktifitas perusahaan, karena lebih memicu karyawan untuk hadir tepatwaktu dan kehadirannya tidak fiktif. Disamping itu data absensi karyawan sangat diperlukan dalam pemberian surat peringatan kepada karyawan jika melewati
AbsenTidak hadir atau tidak masuk Adaptasi Penyesuaian diri terhadap lingkungan from BUS MISC at Nusantara PGRI University of Kediri
P02p. Penggunaan Istilah “Absensi” dan “Presensi” yang – Untuk saat ini penggunaan istilah menjadi penting untuk lebih diperhatikan. Hal ini bertujuan agar penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin memasyarakat. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai penggunaan istilah absensi dan presensi yang atau tidak, dalam komunikasi sehari-hari di sekolah, di kantor-kantor, pada pertemuan-pertemuan, kita sering menggunakan istilah absensi dan presensi secara tidak banyak kalangan tua atau muda, terdidik atau tidak terdidik, pejabat atau bukan pejabat sebagian besar tidak menyadari akan kesalahan penggunaan kedua istilah pemakai bahasa tidak merancukan penggunaan istilah absensi dan presensi tersebut karena memang kedua istilah tersebut berbeda makna dan Istilah “Absensi” dan “Presensi” yang TepatMari kita mencermati makna dan penggunaan kedua istilah tersebut yang Istilah AbsensiPenggunaan istilah “absensi” atau “absen” yang tidak tepat di kalangan masyarakat kita, termasuk di lingkungan pendidikan ternyata masih cukup banyak, beredar luas, turun temurun dan berurat sedikit yang masih memahami bahwa istilah absensi dan absen ini merupakanpendukung makna“kehadiran.”Hal ini terungkap dalam beragam bentuk kalimat baik lisan maupun tulis dalam komunikasi contoh perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.“Minta absensinya dong!”“Jangan lupa absen/absensi, ya teman-teman!”“Kami sudah absen, ya!”“Daftar absennya mana?”“Tolong ambilkan daftar absen/absensi, ya?”“Yang tidak absen dinyatakan tidak hadir!”“Kamu sudah absen belum?“Absen Dulu dong!”“Baiklah, perhatikan anak-anak, saya absen dulu, ya?”Istilah absensi atau absen dalam kalimat di atas umumnya digunakan untuk menyatakan makna “kehadiran” seseorang atau sekelompok orang. Betulkan?Padahal penggunaan istilah di atas justru tidak tepat dan tidak sesuai dengan makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI.Makna Istilah absensi dalam KBBIDalam KBBI, istilah absensi bermakna ketidakhadiran. Adapun absen bermakna tidak masuk sekolah, kerja, dan sebagainya atau bermakna “tidak hadir.”Hal ini dapat diartikan bahwa absensi dan absen secara umum menyatakan bahwa seseorang atau sekelompok orang “tidak hadir” atau “tidak ada” dalam suatu aktivitas atau kegiatan pada waktu karena itu, untuk menyatakan kehadiran, kita tidak boleh menggunakan kata absensi atau absen. Jangan pula menggunakan istilah “daftar absen” untuk mendata mereka yang seluruh masyarakat Indonesia di semua sektor kehidupan memahami hal ini. Dengan begitu, kesalahan pemakaian istilah ini bisa kita kurangi bahkan kita perbaiki sedikit demi sedikit. Kita berharap kesalahan ini tidak terulang kembali pada masa yang akan Istilah PresensiUntuk menyatakan makna “kehadiran” kita pada suatu aktivitas atau kegiatan, kita dapat menggunakan istilah “hadir” atau “presensi” sesuai yang dimaksud adalah kita datang atau ada, maka kita menggunakan istilah “hadir.” Adapun apabila yang diumaksud adalah daftar kehadiran kita, maka kita bisa menggunakan istilah “daftar hadir” atau daftar presensi.”Bila kalimat sebelumnya tentang kesalahan penggunaaan istilah “absen”dan “absensi” ingin kita perbaiki maka penggunaan istilah yang benar sebagai berikut.“Minta daftar hadirnya dong!”“Jangan lupa hadir, ya teman-teman!” atau “Jangan lupa isi daftar hadir/daftar presensi, ya teman-teman!”“Kami sudah hadir, ya!” atau “Kami sudah mengisi daftar hadir/daftar presensi , ya!”“Daftar hadirnya /daftar presensinya mana?”“Tolong ambilkan daftar hadir/daftar presensi, ya?”“Yang tidak mengisi daftar hadir/daftar presensi dinyatakan tidak hadir!”“Kamu sudah menandatangani presen belum?“Mengisi presensi dulu dong!”“Baiklah, perhatikan anak-anak, saya cek kehadiran kalian, ya?”Semoga tulisan ini dapat membantu kita untuk memperbaiki kesalahan penggunaan istilah yang sudah lama “terpelihara” secara mengubah sesuatu yang sudah mengurat dan mengakar memang membutuhkan kesabaran. Mari kita mulai dari diri kita dan lingkungan kita agar penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar termasuk dalam penggunaan istilah absensi dan presensi dapat kita pahami dengan kita bangga menjadi bangsa Indonesia dan bangga pula berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kita bangga dapat menggunakan istilah absen, absensi, dan presensi yang Kata dalam Bahasa Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19Kalimat Efektif Pengertian, Ciri, dan Contohnya yang TepatDemikianlah pembahasan mengenai penggunaan istilah “absensi” dan “presensi” yang tepat. Semoga bermanfaat.
Ada satu kata salah kaprah dalam wacana bahasa kita yang menggelikan bernama ’absensi’. Kata ini kita serap dari bahasa Belanda absentie’ yang maknanya ketidakhadiran’. Lawan katanya adalah presentie’ yang bermakna kehadiran’. Dalam bahasa Inggris dia disebut dengan absence’ dan lawan katanya adalah attendance’. Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri kita absensi’ malah dimaknai dengan kehadiran’. Sebelum saya mengupas lebih lanjut tentang keanehan kata absensi’ ini, marilah kita mencermati surat pembaca yang dimuat pada Kompas hari ini Rabu 22 Mei 2013. Judulnya adalah Nilai Absensi Ryani Soedirman’. Ringkas cerita, seorang anggota DPR bernama Ryani Soedirman menyatakan sanggahan atas berita yang dikutip dari BK DPR yang memuat namanya dalam daftar anggota DPR yang tingkat kehadirannya kurang dari 50 persen. Dia menjelaskan bahwasanya dia menjadi anggota DPR melalui mekanisme PAW Pergantian Antar Waktu dan baru mulai aktif pada Oktober 2012, sedangkan BK menghitung kehadiran anggota dewan dimulai dari tahun 2009 sesuai dengan masa bakti DPR 2009-2014. Menjelang akhir dari surat pembaca ini, Ryani Soedirman menuliskan [Sesuai absensi dari Sekretariat DPR yang disampaikan BK mengenai absensi persidangan untuk masasidang I 2012-2013, nilai absensi saya adalah 100 persen]. Di sinilah letak kelucuan dan mungkin kekonyolan dari kata absensi’ ini. Apakah kita menginterpretasikan sebagai ’nilai ketidakhadiran yang bersangkutan 100 persen’ berarti bolos total ataukah ’nilai kehadiran yang bersangkutan 100 persen berarti tak pernah bolos. Kerunyaman kata ’absensi’ ini lebih diperparah, karena kita mengenal kata ’absen’ yang maknanya ’tidak hadir’ ini sudah tepat definisinya. Alhasil, kita diombang-ambingkan pada dualisme permaknaan ’absensi’ ini, bisa ’kehadiran’, bisa juga ’ketidakhadiran’. Istilah ’daftar absensi’ juga sangat rancu, karena di situ termuat nama dan paraf orang yang hadir dan bukan yang absen. Seharusnya, karena kita sudah kepalang tanggung menyerap dari kata Belanda ini, maka dia harus disebut dengan ’daftar presensi’ dari kata ’presentie’ = kehadiran. Bicara soal ’absensi’ kita tak bisa lepas dari istilah unik ’bolos’. Di media massa, belum lama ini diberitakan anggota-anggota DPR yang suka ’membolos’. Dari mana kita memperoleh istilah ’bolos’ ini? Kata ’bolos’ memang dahulu secara khusus ditujukan pada anak sekolah yang tidak hadir tanpa keterangan yang jelas. Anda barangkali masih ingat dengan lirik lagu ’Amri membolos – kata bu guru – jangan membolos – menyusahkan ibu’. Boleh percaya atau tidak, kata ’bolos’ ini juga kita serap dari bahasa Belanda ’spijbelaars’ maknanya ’anak-anak yang suka membolos’. Sebagaimana lazimnya kata-kata Belanda lain yang sulit ditangkap di telinga kita, istilah ini cuma terdengar ’belaars’ saja, dan lama-kelamaan bersalin rupa menjadi ’bolos’. Dua kata warisan dari bahasa Belanda, ’absensi’ dan ’bolos’ ini, belakangan ini membuat sejumlah anggota DPR kebakaran jenggot karena dituding makan gaji buta. Artikel Terkait
absen tidak hadir disebut